Dalam kehidupan manusia, menjalani pekerjaan dan posisi apapun, tidak akan terlepas dari empat hal, yaitu nikmat, musibah, taat dan maksiat. Nikmat yang diberikan Allah harus disikapi dengan bersyukur. Musibah disikapi dengan sabar karena itu merupakan ketentuan Allah SWT. Kalau manusia taat beribadah, jangan kemudian menjadi sombong karena ketaatannya dan merendahkan orang lain. Maka dari itu, ketika sudah taat hendaknya manusia menyadari bahwa ketaatan itu adalah anugerah Allah SWT dan patut disyukuri sehingga tidak menjadikan dirinya sombong dan riya.
Jika terjerumus dalam maksiat, maka sikapilah dengan beristighfar dan minta ampun. Jika maksiat itu kemudian menimbulkan rasa hina di hadapan Allah dan membutuhkan Allah, maka hal itu sungguh lebih baik daripada ketaatan yang menimbulkan kebangaan diri.
Mengingat hal-hal di atas, maka sesungguhnya ada satu poin penting yang membuat manusia dapat terhindar dari musibah, ketaatan yang menimbulkan kesombongan dan maksiat. Manusia selayaknya harus selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, baik sehat maupun sakit. Bersyukur adalah perintah Allah, melaksanakan perintah-Nya berarti taat kepada-Nya. Orang yang bersyukur akan ditambaah nikmatnya oleh Allah SWT. Sesungguhnya bersyukur dapat mengikat nikmat yang ada dan meraih nikmat yang belum ada.
Nikmat yang sudah Allah berikan, kita ikat supaya tidak hilang. Nikmat yang belum ada dengan bersyukur akan Allah berikan. Dalam konteks bersyukur, Allah tidak akan memberikan musibah atau bencana jika manusia bisa bersyukur. Alasan manusia harus bersyukur juga karena Rasulullah SAW selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Hendaknya kita mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Dalam menyikapi nikmat, ada bebeberapa cara bersyukur yang ideal. Pertama, ingatlah kepada yang memberi nikmat. Sadarilah bahwa tidaklah nikmat datang kecuali dari Allah SWT. Kedua, taatlah kepada yang memberi nikmat. Karena nikmat tersebut, kita dapat bekerja dan menjalani kehidupan dengan baik. Karena itu, manusia harus menunjukkan ketaatanya sebagai bentuk rasa syukur dengan ibadah tepat waktu, sholat berjamaah. Ketiga, setelah diberi nikmat hendaklah kita dapat menjaganya. Diberi nikmat sehat kita harus berolahraga dan menjaga kebersihan agar sehat itu dapat terjaga.
Keempat, gunakanlah nikmat sesuai dengan ridha pemberi nikmat, salah satunya dengan memberikan santunan kepada anak yatim-piatu, dhuafa, dan sebagainya. Dengan begitu, orang lain yang berhak mendapatkan juga turut merasakan nikmat yang Allah berikan kepada kita.
Paparan tausiyah tersebut disampaikan oleh Ust. Muhaimin dalam acara tasyakur bin nikmat di Masjid As-Salam, Perum Jasa Tirta II. Dalam acara tersebut juga turut hadir Direktur I PJT II, Sumyana Sukandar. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan agar karyawan/karyawati PJT II senantiasa bisa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Dalam kegiatan ini, turut diberikan santunan dari infaq dan sodaqoh melalui BMT As-Salam kepada 751 penerima yang terdiri dari anak yatim-piatu, dhuafa, janda, pensiunan PJT II di sekitar Kabupaten Purwakarta.(humas_nit)
![logo-white [IMG:logo-white]](../../cache/post/original/1/c/1c766azfonxaabzwp61ejp.png)